Prosedur Keselamatan kerja dan kesehatan (K3) Listrik serta Grounding listrik

Materi 1 Elektonika Industri : Keselamatan industri terkait dalam keamanan listrik secara umum

Keselamatan Industri

Keselamatan adalah prioritas utama pada setiap pekerjaan. Kecelakaan listrik seringkali kita mendengar adanya kebakaran yang dipicu oleh listrik. kecelakaan listrik terjadi akibat kecerobohan atau kurangnya pengetahuan ttg listrik.

Latar Belakang Keselamatan Kerja antara lain:

  • Banyaknya potensi zat berbahaya (risiko)
  • Kematian atau cedera pribadi
  • Besarnya potensi ledakan yang terjadi
  • Kerugian finansial terjadi setelah bencana (kehilangan, kerusakan, atau kerusakan properti selain dari produk itu sendiri)
  • Perlindungan Kesehatan – akibat terus menerus terekspos dalam kondisi yang tidak save dan tidak sehat (dampak)

1.1   Sengatan Kejutan Listrik (Sengatan Listrik)

Terkena sengatan listrik terjadi karena badan seseorang menjadi bagian dari rangkaian listrik. Tiga faktor-listrik yang terlibat didalam kecelakaan adalah tahanan, tegangan dan arus.

Seringkali kita mendengar adanya kebakaran yang dipicu oleh listrik. Banyak orang kehilangan nyawa akibat kena sengatan listrik.

Ada tiga bahaya yang diakibatkan oleh listrik, yaitu :

1.  Kesetrum (sengatan listrik), panas atau kebakaran, dan ledakan. Kesetrum atau sengatan listrik akan dirasakan jika arus listrik melalui tubuh kita. arus yang mengalir lebih dari 5 mA. 

2.  Bahaya adalah panas atau kebakaran. Panas muncul karena adanya aliran arus melalui suatu resistansi. Besarnya panas sebanding dengan kwadrat arus, besarnya resistansi, dan waktu. Jika kita menggunakan kabel yang terlalu kecil maka resistansinya besar sehingga kawat bisa mengalami pemanasan. Kawat yang panas bisa menyebabkan terbakarnya isolasi kabel sehingga mengakibatkan terjadinya hubung singkat.

3.   Bahaya adalah ledakan. Saat terjadi hubung singkat, Arus yang sangat besar bisa menyebabkan kenaikan temperatur yang sangat cepat sehingga menyebabkan naiknya tekanan udara secara cepat.

Untuk mengurangi bahaya akibat penggunaan listrik, di Indonesia telah ada Peraturan Umum Instalasi Listrik (PUIL). Di dalam PUIL, telah diatur bagaimana mengurangi risiko muculnya tegangan sentuh yang membahayakan orang. Menurut peraturan, seharusnya semua instalasi listrik harus mendapatkan sertifikat laik operasi (SLO) yang dikeluarkan oleh pihak yang berwenang. 

1.2  Keselamatan Ditempat Kerja

Safety menjadi faktor yang sangat penting pada lingkungan kerja khususnya di industri listrik. Keselamatan merupakan prioritas yang utama karena beresiko bagi kelangsungan bisnis. Keselamatan Pekerjaan dan Administrasi Kesehatan (the Occupational Safety and Health Administration) OHSAS mengatur keselamatan kerja pada perusahaan pabrik.

  • Tanda – tanda Pencegah Kecelakaan di area Kerja.

Keamanan pelaksanaan kerja sangat tergantung pada semua personal pabrik dan sikap berhati-hati pada potensi bahaya patuhilah semua tanda-tanda pencegahan kecelakaan.

Alat Pelindung Diri (APD)

APD singkatan dari Alat Pelindung Diri. Yaitu peralatan atau perlengkapan yang digunakan dalam bekerja untuk melindungi diri kita dari risiko kecelakaan kerja.

1.3  Pentanahan    

Listrik adalah aliran elektron. Listrik selalu mencoba mencari jalan ketanah, pada umumya pentanahan bertujuan untuk melawan dua bahaya kebakaran dan sengatan listrik. Pentanahan biasanya dilakukan dengan menanam batang tembaga sedalam tiga meter ke tanah. Diusahakan tahanan pentanahan yang didapat kurang dari 25 Ohm.

Kawat netral yang datang dari PLN harus disambung ke batang atau elektroda pentanahan yang telah dibuat. Setelah itu, semua bagian logam dari peralatan (yang pada keadaan normal tidak dialiri arus) harus disambung ke elektroda pentanahan tersebut.

Tujuan utama dari pentanahan ini ada tiga : 1.Menjamin bahwa tegangan titik netral relatif terhadap tanah sama dengan atau mendekati nol. 2.Menjamin bahwa semua bagian logam peralatan tegangannya selalu mendekati nol sehingga aman jika tersentuh oleh tubuh kita. 3.Jika terjadi hubung singkat antara kawat dengan bagian logam peralatan, arus listrik bisa mengalir cukup besar sehingga bisa terdeteksi oleh pengaman sehingga bisa segera diputus. Dengan pemutusan yang segera, pemanasan bisa dihindari sehingga mencegah terjadinya kebakaran.

Selain harus dipasang oleh ahlinya, demi keamanan kita harus menggunakan peralatan listrik yang sesuai standar. Ukuran kabel harus sesuai dengan kebutuhannya. Bahan isolasi yang dipakai harus sesuai dengan peruntukannya.

Selain membiasakan hanya menggunakan peralatan standar yang dijamin keamanannya, hal-hal berikut bisa mengurangi risiko bahaya listrik:

 1. Jangan menggunakan pencukur listrik dan hair dryer di kamar mandi. Yakinkan tangan dalam keadaan kering saat menggunakan   peralatan listrik

 2. Jangan memasang stop kontak di tempat yang mungkin basah;

 3. Jangan mencolokan banyak peralatan dalam suatu stop kontak atau pembagi.

 4. Jangan mencabut kontak tusuk dengan kabelnya;

 5. Matikan listrik atau cabut stop kontaknya saat peralatan tidak digunakan.

 6. Jangan gantung pakaian pada lampu atau peralatan listrik lainnya;

 7. Panggil ahlinya jika curiga ada gangguan pada peralatan listrik.

1.4  Lockout Sumber Listrik

Lockout dan tagout proses penguncian sumber-daya dengan gembok. Pada posisi OFF sesuai dengan petunjuk kartu dan langkah-langkah pokok prosedur lockout.

Lock Out tag Out (LOTO) adalah tindakan pengamanan untuk Mencegah bahaya kesalahan operasi

1.5  Tindakan Pencegahan untuk penanganan Kecelakaan di Industri

Pencegahan Kecelakaan Industri di atur melalui ILO code of practice. Standar peraturan ini disahkan di Geneva, International Labour Organization, 1991 – ISBN 92-2-107101-4

Tujuan dari ILO Code of Practice ini adalah untuk memberikan panduan tentang perlindungan data pribadi pekerja. Kode praktik ILO tidak memiliki kekuatan yang mengikat, melainkan membuat rekomendasi. Kode ini tidak menggantikan hukum nasional, peraturan, standar perburuhan internasional atau standar lain yang diterima,

Isi dari ILO Code of Practice ini adalah:

  • Peraturan/standar ILO berupa panduan praktis yang ditetapkan di industri dalam upaya mencegah terjadinya kecelakaan-kecelakaan besar seiring dengan kenaikan produksi, penyimpanan dan penggunaan bahan berbahaya
  • Tujuan panduan praktis adalah untuk memberikan arahan tentang pengaturan administasi, hukum dan sistem teknis untuk pengendalian instalasi bersiko tinggi yang dilakukan dengan memberikan perlindungan kepada pekerja, masyarakat dan lingkungan dengan mencegah terjadinya kecelakan besar yang mungkin terjadi dan meminimalisasikan dampak dari kecelakaan tersebut
  • Penerapan panduan praktis dilakukan pada instalasi beresiko tinggi yang diidentifikasikan dengan keberadaan zat-zat berbahaya yang membutuhkan perhatian tinggi.
  • Instalasi beresiko tinggi berdasarkan jenis dan kuantitasnya menurut panduan praktis:
    1. Industri kimia dan petrokimia
    2. Industri penyulingan minyak
    3. Instalasi penyimpanan gas alam cair (LNG)
    4. Instalasi penyimpanan gas dan cairan yang mudah terbakar
    5. Gudang bahan-bahan kimia
    6. Instalasi penyulingan air bersih dengan menggunakan klorin
    7. Industri Pupuk dan Pestisida
  • Instalasi beresiko tinggi berdasarkan jenis dan kuantitasnya diluar cakupan panduan praktis:
    1. Instalasi Nuklir
    2. Pangkalan Militer (instalasi  biologi, nuklir dan kimia serta pusat persenjataaan)
  • Instalasi beresiko tinggi adalah instalasi industri permanen atau sementara, yang menyimpan, memproses atau memproduksi zat-zat berbahaya dalam bentuk dan jumlah tertentu menurut peraturan yang berlaku yang berpotensi menjadi penyebab terjadinya kecelakaan besar.
  • Identifikasi bahan berbahaya menurut jenis dan tingkat kuantitas ambang terjadinya kecelakaan besar
    1. Bahan kimia sangat beracun : methyl isocyanate, phosgene
    2. Bahan kimia beracun: acrylonitrile, ammonia, chlorine, sulphur dioxide, hydrogen sulphide, hydrogen cyanide, carbon disulphide, hydrogen fluoride, hydrogen chloride, sulphur trioxide
    3. Gas dan cairan mudah terbakar
    4. Bahan peledak: ammonium nitrate, nitroglycerine, C4, PETN, TNT
  • Audit Instalasi beresiko tinggi
    1. Instalasi beresiko tinggi diaudit oleh manajemen audit yang ditunjuk pemegang otoritas sesuai dengan ketentuan yang berlaku di wilayah instalasi itu berada.
    2. Mencakup identifikasi kejadian tidak terkendali yang memicu timbulnya kebakaran, ledakan atau terlepasnya zat-zat beracun.
    3. Mencakup estimasi potensi bahaya sebagai konsekuensi dari ledakan, kebakaran maupun terlepasnya zat-zat beracun.
    4. Mempertimbangkan potensi efek lanjutan yang terjadi pada instalasi beresiko tinggi lainnya yang ada disekitarnya
    5. Mempertimbangkan kesesuaian pengukuran keselamatan kerja yang digunakan dalam identifikasi kemungkinan terjadinya bahaya untuk menjamin validitas hasil audit itu sendiri
    6. Memperhitungkan analisa resiko secara menyeluruh dari keterkaitan antara kecelakaan besar yang mungkin timbul dengan  letak instalasi beresiko tinggi itu sendiri.
  • Manajemen pengendalian resiko kecelakaan dan pengamanan pada instalasi beresiko tinggi meliputi:
    1. Disain, fabrikasi dan penginstalasian pabrik yang aman, termasuk penggunaan komponen peralatan bermutu tinggi
    2. Pemeliharaan pabrik secara rutin
    3. Pengoperasian pabrik sesuai prosedur yang berlaku
    4. Pengelolaan keselamatan lingkungan kerja secara baik
    5. Inspeksi secara rutin terhadap keseluruhan instalasi yang diikuti dengan perbaikan atau penggantian komponen peralatan yang dibutuhkan
    6. Pengawasan rutin terhadap keamanan dan sistem pendukungnya
    7. Ketersediaan dan inspeksi rutin peralatan keselamatan kerja yang dapat digunakan dalam kondisi darurat
    8. Analisa bahaya dan resiko yang terjadi akibat kerusakan komponen peralatan, pengoperasian instalasi yang abnormal, faktor kesalahan manusia dan manajemen, pengaruh kecelakaan yang terjadi di sekitar instalasi, bencana alam, tindakan kejahatan dan sabotase
    9. Analisa komprehensif terhadap modifikasi peralatan dan instalasi baru
    10. Penyebaran informasi dan pelatihan keselamatan kerja bagi setiap pekerja pada instalasi tersebut
    11. Penyebaran informasi secara berkala kepada masyarakat yang tinggal atau bekerja di sekitar lokasi instalasi industri
  • Analisa Bahaya dan Resiko meliputi:
    1. Identifikasi bahan beracun, reaktif dan eksplosif yang disimpan, diproses atau diproduksi
    2. Identifikasi kegagalan potensial yang dapat menyebabkan kondisi pengoperasian abnormal dan menimbulkan kecelakaan
    3. Analisa konsekuensi dari kecelakaan yang terjadi terhadap pekerja dan masyarakat sekitar
    4. Tindakan pencegahan terhadap terjadinya kecelakaan
  • HAZOP (an example of Hazard and Risk Analysis)
    1. Identifikasi penyimpangan/deviasi yang terjadi pada
    2. suatu instalasi industri dan kegagalan operasinya yang menimbulkan keadaan tidak terkendali
    3. Dilakukan pada tahap perencanaan untuk instalasi industri baru
    4. Dilakukan sebelum melakukan modifikasi peralatan atau penambahan instalasi baru dari instalasi industri lama
    5. Analisa sistematis terhadap kondisi kritis disain instalasi industri, pengaruhnya dan penyimpangan potensial yang terjadi serta potensi bahayanya
    6. Dilakukan oleh kelompok para ahli dari multi disiplin ilmu dan dipimpin oleh spesials keselamatan kerja yang berpengalaman atau oleh konsultan pelatihan khusus
  • Perencanaan Keadaan Darurat
    1. Bertujuan untuk melokalisasi bahaya dan meminimalisasi dampaknya
    2. Identifikasi jenis-jenis kecelakaan yang potensial
    3. On site emergency
    4. Off site emergency
  • Onsite Emergency melipiuti sbb:
  1. Perencanaan keadaan darurat didasarkan pada konsekuensi yang timbul dari kecelakaan besar yang potensial
  2. Penanganan keadaan darurat dilakukan tenaga penanggulangan kecelakaan dalam jumlah yang cukup
  3. Perencanaan keadan darurat merupakan uji dan pengidentifikasian kelemahan instalasi industri yang akan secepatnya diperbaiki
  4. Antisipasi bahaya dengan memperhatikan: kekerapan terjadinya kecelakaan, hubungan dengan pihak berwenang di luar lokasi, prosedur menghidupkan tanda bahaya, komunikasi internal dan eksternal instalasi serta lokasi dan pola pengaturan dari pusat pengelola gawat darurat
  5. Fasilitas penanganan keadaan darurat: telepon, radio dan alat komunikasi internal-eksternal yang memadai, peta yang menunjukan keberadaan bahan berbahaya, alat penunjuk arah dan pengukur kecepatan angin, alat penyelamatan diri, daftar lengkap pekerja, …
  • Off site emergency meliputi:
  1. Perencanaan disiapkan oleh dan merupakan otoritas yang kompeten yang diatur melalui kebijakan, peraturan atau perundangan.
  2. Planning ini merupakan antisipasi dari bahaya dalam skala besar dan penanganannya terkait dengan otoritas lokal penanggulangan kecelakaan
  3. Perencanaan didasarkan pada informasi atas konsekuensi yang timbul dari kecelakaan besar yang potensial
  • Konsultan Keselamatan Kerja
    • Membuat analisa bahaya dan resiko serta mempersiapkan laporan keselamatan kerja bekerjasama dengan manajemen audit
    • Menetapkan garis besar disain dan operasi instalasi industri yang aman, serta pengaplikasiannya dalam desain peralatan, proses kendali, pengoperasian secara manual, …
    • Menganalisa konsekuensi dari kecelakan potensial dengan permodel dampak potensialnya
    • Menetapkan penanganan keadaan darurat on site dan perencanaan keadaan darurat off siteMelakukan pelatihan pada pekerja

1.6 Bahaya Listrik terhadap manusia

Apakah anda pernah kesetrum, berikut di bawah ini penyebab terjadinya kesetrum atau terjadinya sengatan listrik

  • Aliran arus listrik
  • Pengaruh medan magnit
  • Kesalahan mekanik perlengkapan listrik
  • Bunga api
  • Kombinasi

Faktor Yang Mempengaruhi Keparahan Pada Cedera Akibat Listrik

  • Voltage/Kekuatan listrik (beda potensial)
  • Amper (Arus Listrik)
  • Type Arus/jenis aliran (searah/bolak-balik)
  • Lama Kontak == banyaknya energi yang terserap
  • Daerah / bagian tubuh yang kontak (Tahanan)
  • Jalan Arus
  • Banyaknya Jaringan Resistance
  • Kandungan Air Dalam Jaringan
  • Kondisi phisik dan kejiwaan (perubahan tahanan)

Akibat Sengatan listrik

  1. Akibat arus searah :
    • Perubahan elektrolit.
  2. Akibat Arus bolak-balik:
    • Kejang otot
    • Berkeringat
    • Kerusakan jaringan
    • Vertrikel fibrilasi sampai henti jantung, otak kurang O2 dan meninggal.
    • Voltage dan freq. 100 v & 60 Hz menyebabkan ventrical fibrilation

Akibat dari sengatan listrik berdasarkan besaran arus listrik yang terkena manusia

  • Besar arus = 0,5 ma, Dirasakan
  • Lebih dari 3 ma. painful shock
  • Lebih dari 10 ma. Kontraksi otot “no-let-go” danger, 0,1 dtk tdk tjd gangguan, 0,5 dtk kelumpuhan sementara, pernafasan, pingsan, 1 dtk ventricel fibrilasi.
  • Lebih dari 30 ma. lung paralysis- usually temporary
  • Lebih dari 50 ma. Possible ventricular fib. (heart dysfunction, usually fatal)
  • 100 ma sampai 4 amps. Certain ventricular fibrillation, fatal
  • Lebih 4 amps. Heart paralysis; severe burns. Usually caused by >600 volts

1.7  Undang-undang Keselamatan Kerja

Peraturan Perundangan Yang Terkait Dengan K3 adalah sbb:

Peraturan Perudangan yang terkait

  1. Undang-undang No. 1 tahun 1970
    • Pasal 3: syarat-syarat Keselamatan Kerja untuk memberikan P3K
    • Pasal 9 ayat (3): kewajiban membina tenaga kerja dalam pemberian P3K
  2. Permennakertrans No.Per.03/Men/1982
    • Pasal 2: Tugas pokok P3K;
      1. Pelaksanaan P3K
      2. Pendidikan petugas P3K
  3. Undang-undang No. 3 Tahun 1969
    • Pasal 19 : Setiap badan , lembaga atau dinas pemberi jasa, atau bagiannya yang tunduk kepada konvensi ini, dengan memperhatikan besarnya dan kemungkinan bahaya harus
    • Menyediakan Apotik atau pos P3K sendiri atau
    • Memelihara apotik atau pos P3K bersama-sama dengan badan, lembaga atau kantor pemberi jasa atau bagiannya.
    • Mempunyai satu atau lebih lemari, kotak atau perlengkapan P3K
  4. Peraturan Khusus AA (Sudah Tidak Berlaku)
    • Alat pengangkut penderita (brankar/Bale-bale)
    • Peti P3K/Peti khusus dokter
    • Petugas P3K yang sudah dilatih
  5. Permenakertrans No. Per.15/Men/VIII/2008 tentang P3K Di Tempat Kerja
    • Ps 2. Kewajiban pengurus/pengusaha :
    • Pengusaha wajib menyediakan petugas P3K dan fasilitas P3K di tempat kerja.
    • Pengurus wajib melaksanakan P3K di tempat kerja.
    • Ps.3 Syarat Petugas P3K Di Tempat Kerja :
      1. Harus memiliki lisensi dan buku kegiatan P3K dari instansi ketenagakerjaan.
      2. Syarat-syarat pemberian lisensi petugas P3K Di Tempat Kerja :
        • Bekerja pada perusahaan yang bersangkutan;
        • Sehat jasmani dan rohani;
        • Bersedia ditunjuk menjadi petugas P3K;
        • Memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar di bidang P3K di tempat kerja à memiliki sertifikat pelatihan P3K di Tempat Kerja.
        • Pemberian lisensi dan buku kegiatan P3K sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dikenakan biaya.
        • Pedoman tentang pelatihan dan pemberian lisensi diatur lebih lanjut dengan Keputusan Direktur Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan
    • Ps. 4. Petugas P3K dalam melaksanakan tugasnya dapat meninggalkan pekerjaan utamanya untuk memberikan pertolongan bagi pekerja/buruh dan/atau orang lain yang mengalami sakit atau cidera di tempat kerja
    • Ps. 5. Petugas P3K di tempat kerja ditentukan berdasarkan jumlah pekerja/buruh dan potensi bahaya di tempat kerja (dengan rasio sebagaimana Lampiran I Peraturan
    • Pengurus wajib mengatur tersedianya Petugas P3K pada :
      1. Tempat kerja dengan unit kerja berjarak 500 meter atau lebih sesuai jumlah pekerja/buruh dan potensi bahaya di tempat kerja;
      2. Lokasi bekerja di setiap lantai yang berbeda di gedung bertingkat sesuai jumlah pekerja/buruh dan potensi bahaya di tempat kerja;
      3. Tempat kerja dengan jadwal kerja shift sesuai jumlah pekerja/buruh dan potensi bahaya di tempat kerja.
    • Ps. 8 : Fasilitas P3K di Tempat Kerja meliputi:
      1. Ruang P3K;
      2. Kotak P3K dan isi;
      3. Alat evakuasi dan alat transportasi; dan
      4. Fasilitas tambahan berupa alat pelindung diri dan/atau peralatan khusus di tempat kerja yang memiliki potensi bahaya yang bersifat khusus.
      5. Alat pelindung diri khusus : peralatan yang disesuaikan dengan potensi bahaya yang ada di tempat kerja yang digunakan dalam keadaan darurat.
      6. Peralatan khusus : alat untuk pembasahan tubuh cepat (shower) dan pembilasan/pencucian mata.
    • Ps 9 :
      1. Pengusaha wajib menyediakan ruang P3K sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) huruf a dalam hal :
      2. Mempekerjakan pekerja/buruh 100 orang atau lebih;
      3. Mempekerjakan pekerja/buruh kurang dari 100 orang dengan potensi bahaya tinggi .
      4. Persyaratan ruang P3K (lanjutan) :
        • Diberi tanda yang jelas dengan papan nama yang jelas dan mudah dilihat;
        • Sekurang-kurangnya dilengkapi dengan :
        • wastafel dengan air mengalir;
        • Kertas tisue/lap;
        • Usungan/tandu;
        • Bidai/spalk;
        • Kotak P3K dan isi;
        • Tempat tidur dengan bantal dan selimut;
        • Tempat untuk menyimpan alat-alat, seperti : tandu dan/atau kursi roda;
        • Sabun dan sikat;
        • Pakaian bersih untuk penolong;
        • Tempat sampah; dan
        • Kursi tunggu bila diperlukan.

Dasar hukum Undang-undang No 1 Th 1970

  • Obyektif K-3 adalah melindungi :
  1. Tenaga kerja dan orang lain
  2. Asset perusahaan &
  3. Lingkungan tempat kerja
  • Tujuan K3 Listrik
  1. Menjamin kehandalan instalasi listrik sesuai tujuan penggunaannya.
  2. Mencegah timbulnya bahaya akibat listrik
    • Bahaya sentuhan langsung
    • Bahaya sentuhan tidak langsung
    • Bahaya kebakaran

Persyaratan Umum Instalasi Listrik Peluncuran perdana 24-10-2001, Ditetapkan sebagai Standar Wajib. Kep Menteri Energi & Sumber Daya Mineral No. : 2046 K/40/MEN/2001 Tanggal 28 Agustus 2001. Batas waktu penyesuaian 3 tahun.

Prinsip proteksi bahaya listrik

  • Mencegah mengalirnya arus listrik melalui tubuh manusia
  • Membatasi nilai arus listrik dibawah arus kejut listrik
  • Memutuskan suplai secara otomatik pada saat terjadi gangguan

Kebakaran karena LISTRIK

  • Pembebanan lebih
  • Sambungan tidak sempurna
  • Perlengkapan tidak standar
  • Pembatas arus tidak sesuai
  • Kebocoran isolasi
  • Listrik statik
  • Sambaran petir

UNDANG-UNDANG KESELAMATAN KERJA No. 1 Tahun 1970

  • UNDANG-UNDANG KESELAMATAN KERJA mengatur keselamatan kerja disegala tempat kerja baik itu di darat, laut dan udara dalam wilayah NKRI
  • UNDANG-UNDANG KESELAMATAN KERJA bertujuan untuk mengurangi kecelakaan, mengurangi adanya bahaya peledakan, memaksa peningkatan kemampuan pekerja dalam memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan dan pemberian alat-alat pelindung kepada pekerja terutama untuk pekerjaan yang memiliki resiko tinggi serta membantu terciptanya lingkungan kerja yang kondusif seperti penerangan tempat kerja, kebersihan, sirkulasi udara serta hubungan yang serasi antara pekerja, lingkungan kerja, peralatan dan proses kerja.
  • Sumber bahaya kerja diidentifikasikan terkait erat dengan:
    1. Kondisi mesin, pesawat, alat kerja serta peralatan lainnya
    2. Bahan berbahaya (Explosive, Flameable, Poison)
    3. Lingkungan
    4. Sifat pekerjaan
    5. Cara kerja
    6. Proses produksi
  • UNDANG-UNDANG KESELAMATAN KERJA berisi petunjuk teknis mengenai apa yang harus dilakukan oleh dan kepada pekerja untuk menjamin keselamatan pekeja itu sendiri, keselamatan umum dan produk yang dihasilkan karena begitu banyak proses yang dilakukan dengan memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menyebabkan perubahan resikko pekerjaan yang dihadapi pekerja di tempat kerjanya.
  • Pengawasan Keselamatan Kerja
    1. Monitoring dan pengambil keputusan tindakan perbaikan keselamatan kerja
    2. Tindakan perbaikan keselamatan kerja (Continuous Improvement) seperti perbaikan cara dan proses kerja, pemeriksaan rutin kesehatan pekerja, retribusi keselamatan kerja

Pengertian

  • Instalasi listrik adalah instalasi  mulai dari pembangkit tenaga sampai titik penggunaan akhir
  • Peralatan listrik adalah setiap alat pemakai listrik
  • Perlengkapan listrik adalah komponen-komponen yang diperlukan pada jaringan instalasi  

Bahaya kejut listrik dibedakan yaitu Langsung dan Tidak langsung

  • Sentuhan langsung adalah bahaya sentuhan pada bagian konduktif yang secara normal bertegangan
  • Sentuhan tidak langsung adalah bahaya sentuhan pada bagian konduktif yang secara normal tidak bertegangan, menjadi bertegangan karena terjadi kegagalan isolasi.

SISTEM PROTEKSI UNTUK KESELAMATAN(BAB III)

  • Proteksi dari kejut listrik
  • Proteksi dari efek thermal
  • Proteksi dari arus lebih
  • Proteksi dari tegangan lebih akibat petir
  • Proteksi dari tegangan kurang
  • Pemisahan dan penyakelaran

Prinsip proteksi bahaya listrik ada 3 , yaitu:

  1. Mencegah mengalirnya arus listrik melalui tubuh manusia
  2. Membatasi nilai arus listrik dibawah arus kejut listrik
  3. Memutuskan suplai secara otomatik pada saat terjadi gangguan

Proteksi Bahaya Sentuhan Langsung sbb:

Metoda :

  1. Isolasi bagian aktif
  2. Penghalang atau Selungkup
  3. Rintangan;
  4. Jarak aman atau diluar jangkauan
  5. Gawai proteksi arus sisa
  6. Isolasi lantai kerja.

Penyebab Kebakaran karena Listrik sbb:

  • Pembebanan lebih
  • Sambungan tidak sempurna
  • Perlengkapan tidak standar
  • Pembatas arus tidak sesuai
  • Kebocoran isolasi
  • Listrik statik
  • Sambaran petir

Ref

  1. Peraturan Menteri Tenaga Kerja No Per 02/Men/1989
    tentang instalasi penyalur petir
    Berlaku untuk sistem proteksi eksternal / proteksi
    bahaya sambaran langsung
  2. SNI 225 .2000 (PUIL 2000)
    Sebagai rujukan untuk sistem proteksi internal / proteksi
    bahaya sambaran tidak langsunglangsung

Instalasi penyalur petir yang tidak memenuhi syarat dapat mengundang bahaya

KONSEPSI PROTEKSI BAHAYA SAMBARAN PETIR

  • PERLINDUNGAN SAMBARAN LANGSUNG

  Dengan memasang instalasi penyalur petir pada  bangunan

  Jenis instalasi :

  •   Sistem Franklin
  •   Sistem Sangkar Faraday
  •   Sistem Elektro statik 
  • PERLINDUNGAN SAMBARAN TIDAK LANGSUNG

  Dengan melengkapi peralatan penyama tegangan pada jaringan instalasi listrik (Arrester)

SYARAT PEMBUMIAN/TAHANAN PEMBUMIAN

  1. Dipasang sedemikian sehingga tahan pembumian terkecil.
  2. Sebagai elektroda bumi dapat digunakan
    • Tulang baja dari lantai kamar, tiang pancang (direncanakan).
    • Pipa logam yang dipasang dalam bumi secara tegak.
    • Pipa atau penghantar lingkar yang dipasang dalam bumi secara mendatar.
    • Pelat logam yang ditanam.
    • Bahan yang diperuntukkan dari pabrikan (spesifikasi sesuai standar)
  3. Dipasang sampai mencapai permukaan air dalam bumi.
  4. Masing-masing penghantar dari suatu instalasi yang mempunyai beberapa penghantar harus disambungkan dengan elektroda kelompok.
  5. Terdapat sambungan ukur.
  6. Jika keadaan alam tidak memungkinkan,
    • Masing-masing penghantar penurunan harus disambung dengan penghantar lingkar yang ditanam dengan beberapa elektro tegak atau mendatar sehingga jumlah tahan pembumian bersama memenuhi syarat.
    • Membuat suatu bahan lain (bahan kimia dan sebagainya) yang ditanam bersama dengan elektroda sehingga tahan pembumian memenuhi syarat.
  7. Elektroda bumi yang digunakan untuk pembumian instalasi listrik tidak boleh digunakan untuk pembumian instalasi penyalur petir.

MACAM MACAM ALAT UKUR & FUNGSINYA

Ampere Meter

Voltmeter

KW Meter

Watt Meter

KWH Meter

Stop Watch

Terima Kasih, semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *